Oleh: Prof. Dr. Nurlaela, M.P
Guru Besar Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UNM
Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, Universitas Negeri Makassar
Perubahan zaman tidak pernah menunggu kesiapan siapa pun. Revolusi industri 4.0 dan society 5.0 telah membawa teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), ke dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks ini, peran guru bukanlah semakin tergantikan, justru menjadi semakin strategis. Namun, peran tersebut hanya akan bermakna jika guru mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi sebagai mitra kerja yang mendukung proses pembelajaran, bukan sebagai ancaman.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang kami laksanakan di SMKN 8 Pinrang pada 17 Mei 2025, kami menyaksikan secara langsung betapa besar potensi yang dimiliki oleh para guru untuk berubah dan berkembang. Kegiatan bertajuk “Pelatihan Pemanfaatan AI untuk Guru SMKN 8 Pinrang” ini bukan sekadar transfer pengetahuan teknis mengenai ChatGPT, Canva AI, atau Quillbot. Lebih dari itu, kegiatan ini adalah bentuk nyata dari upaya membangun kesadaran baru: bahwa dunia pendidikan harus bergerak seiring laju teknologi.
Guru adalah aktor utama dalam transformasi pendidikan. Namun, sering kali mereka menghadapi keterbatasan waktu, beban administratif yang tinggi, serta kurangnya dukungan teknologi yang memadai. Di tengah keterbatasan itu, AI hadir menawarkan bantuan yang tidak bisa diabaikan. Misalnya, dalam pembuatan soal interaktif, penyusunan materi pembelajaran adaptif, hingga desain visual presentasi yang menarik, AI mampu menghemat waktu dan meningkatkan kualitas hasil kerja. Inilah yang kami sampaikan dan latihkan secara langsung dalam pelatihan, sehingga para guru dapat melihat sendiri manfaat praktisnya.
Namun tentu saja, teknologi bukan segala-galanya. Dalam pelatihan ini, kami juga menekankan pentingnya etika, tanggung jawab, dan pemahaman pedagogis dalam penggunaan AI. Guru tetap harus memegang kendali penuh atas proses pembelajaran. AI hanyalah alat bantu—bukan pengganti empati, intuisi, dan nilai-nilai kemanusiaan yang melekat pada profesi guru.
Respon para peserta sangat menggembirakan. Mereka tidak hanya menerima materi dengan antusias, tetapi juga terlibat aktif dalam menyusun modul ajar berbasis AI sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Kami membimbing mereka untuk merancang konten yang lebih relevan dengan kebutuhan siswa, sekaligus membuka ruang diskusi tentang tantangan riil di lapangan. Ini adalah proses yang sangat penting dalam membangun rasa percaya diri guru terhadap teknologi.
Pelatihan ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah. UNM sebagai institusi pendidikan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat penelitian, tetapi juga sebagai mitra strategis bagi sekolah dalam menyebarkan inovasi dan praktik baik. Dunia pendidikan tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Perlu ada ekosistem yang saling menguatkan antara guru, dosen, peneliti, dan praktisi untuk menciptakan pembelajaran yang relevan dan berkelanjutan.
Dalam konteks SMK, urgensi transformasi ini bahkan lebih besar. Lulusan SMK diharapkan siap masuk ke dunia kerja atau menciptakan lapangan kerja sendiri. Maka, keterampilan digital dan literasi teknologi adalah kebutuhan mendesak. Guru SMK harus menjadi teladan dan fasilitator yang mampu membawa siswanya menuju dunia masa depan yang serba digital dan berbasis kecerdasan buatan.
Apa yang kami lakukan di SMKN 8 Pinrang mungkin hanya satu langkah kecil. Namun, kami percaya bahwa setiap perubahan besar dimulai dari inisiatif-inisiatif kecil yang konsisten dan bermakna. Pelatihan ini adalah tonggak awal untuk menciptakan guru-guru yang tidak hanya paham teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara kritis dan kreatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Ke depan, program seperti ini harus diperluas ke sekolah-sekolah lain. Tidak boleh ada kesenjangan digital di antara guru-guru kita. Seluruh pemangku kepentingan pendidikan—pemerintah, kampus, sekolah, dan komunitas—perlu bahu-membahu menciptakan lingkungan belajar yang siap menghadapi masa depan. Karena sesungguhnya, keberhasilan pendidikan bukan terletak pada seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi pada seberapa bijak dan tepat kita menggunakannya untuk membentuk manusia yang utuh.





